SATU RAHIM YANG SAMA
Katanya anak pertama itu harus sekuat baja,
Anak kedua itu yang selalu berbeda, dan
Anak terakhir yang selalu dituruti apa maunya.
Kita lahir dari rahim yang sama dan dibesarkan oleh manusia yang sama juga.
Tetapi, menurutku orang tua memperlakukan kita semuanya sama tinggal bagaimana kitanya saja agar dapat menjadi anak yang berguna.
Terima kasih sudah menjadi sekolah pertama kita.
Terima kasih sudah mengajarkan kita untuk menjaga diri.
Terima kasih sudah mendoakan anak-anakmu dalam setiap sujudmu.
Maaf, tidak dapat disebutkan satu persatu tentang segala hal yang telah kau beri.
Aku sangat berterima kasih karena kau telah mengajarkan tentang banyak hal yang berarti.
Kau selalu berkata kepada anak-anakmu;
Jika nanti kau sudah dipanggil oleh sang pencipta maka jangan lupa agar kita selalu mendoakanmu dalam setiap sujudnya lalu mengirimkan kau sebuah hadiah berupa surat al-fatihah. Untukku permintaan itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kita yang selalu membuatmu resah di saat tidak ada kabar, Membuatmu banyak sabar jika kita sudah mulai sulit untuk di atur.
Kau pernah memberi nasihat kepadaku,
Kata kau "jadilah kau mawar berduri, harumnya menebar pesona, durinya menusuk orang yang ingin memetiknya" .
Makna itu sangat tersirat dan membuatku tidak dapat bersiasat.
Bu, terimakasih sudah menanggung beban berat selama 9 bulan hanya untuk kita agar dapat merasakan urdu-urdu ini.
Bu, Aku ingin bercerita tentang masa remajaku. ternyata menjadi seorang remaja yang akan menuju dewasa itu rumit ya. Banyak hal yang tidak diinginkan tetapi menjadi kenyataan.
Bu, anakmu ini sudah beranjak dewasa, tetapi masih saja manja.
Sekarang aku sudah merasakan sekolah yang tidak memakai seragam dan sudah melihat kehidupan yang lebih beragam. Sekarang aku sudah berada di fase beda arah dan pasti akan beda rasa, sudah banyak langkah untuk meraih cita-cita dan itu tinggal bagaimana dengan caraku saja, agar cita-cita dapat menjadi nyata sesuai dengan doa yang selalu aku sampaikan kepada sang pencipta dan sesuai dengan rencana.
Intinya aku tidak pernah lupa untuk selalu berdoa dalam setiap sujudnya, agar ekspektasi dapat menjadi realisasi.
Bu, semoga kita diberi kesempatan oleh sang maha cendikiawan agar kau dapat melihat aku,kakak, dan juga adik berbahagia karena sudah dapat menjadi sang juara.
Lalu kita pun dapat membuat kau dan juga ayah berbahagia kerena bangga sudah berhasil menjadikan anak-anaknya sebagai sang juara.
Bu, hanya kata maaf yang dapat aku ucapkan, sebab aku belum dapat berkorban untuk membuat kau senang dengan hati yang riang.
Aku hanya ingin;
Kau jangan dulu hilang, sebab hati ini tidak dapat lapang.
Jangan dulu pergi, sebab diri ini sudah teradiksi.
Tetap menjadi orang yang selalu bertahan lalu dapat membahagiakan, dan selalu dapat menjadi seorang panutan.
Terima kasih sudah mengajarkanku untuk selalu berjuang agar dapat menjadi seorang pemenang.
Anak kedua itu yang selalu berbeda, dan
Anak terakhir yang selalu dituruti apa maunya.
Kita lahir dari rahim yang sama dan dibesarkan oleh manusia yang sama juga.
Tetapi, menurutku orang tua memperlakukan kita semuanya sama tinggal bagaimana kitanya saja agar dapat menjadi anak yang berguna.
Terima kasih sudah menjadi sekolah pertama kita.
Terima kasih sudah mengajarkan kita untuk menjaga diri.
Terima kasih sudah mendoakan anak-anakmu dalam setiap sujudmu.
Maaf, tidak dapat disebutkan satu persatu tentang segala hal yang telah kau beri.
Aku sangat berterima kasih karena kau telah mengajarkan tentang banyak hal yang berarti.
Kau selalu berkata kepada anak-anakmu;
Jika nanti kau sudah dipanggil oleh sang pencipta maka jangan lupa agar kita selalu mendoakanmu dalam setiap sujudnya lalu mengirimkan kau sebuah hadiah berupa surat al-fatihah. Untukku permintaan itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kita yang selalu membuatmu resah di saat tidak ada kabar, Membuatmu banyak sabar jika kita sudah mulai sulit untuk di atur.
Kau pernah memberi nasihat kepadaku,
Kata kau "jadilah kau mawar berduri, harumnya menebar pesona, durinya menusuk orang yang ingin memetiknya" .
Makna itu sangat tersirat dan membuatku tidak dapat bersiasat.
Bu, terimakasih sudah menanggung beban berat selama 9 bulan hanya untuk kita agar dapat merasakan urdu-urdu ini.
Bu, Aku ingin bercerita tentang masa remajaku. ternyata menjadi seorang remaja yang akan menuju dewasa itu rumit ya. Banyak hal yang tidak diinginkan tetapi menjadi kenyataan.
Bu, anakmu ini sudah beranjak dewasa, tetapi masih saja manja.
Sekarang aku sudah merasakan sekolah yang tidak memakai seragam dan sudah melihat kehidupan yang lebih beragam. Sekarang aku sudah berada di fase beda arah dan pasti akan beda rasa, sudah banyak langkah untuk meraih cita-cita dan itu tinggal bagaimana dengan caraku saja, agar cita-cita dapat menjadi nyata sesuai dengan doa yang selalu aku sampaikan kepada sang pencipta dan sesuai dengan rencana.
Intinya aku tidak pernah lupa untuk selalu berdoa dalam setiap sujudnya, agar ekspektasi dapat menjadi realisasi.
Bu, semoga kita diberi kesempatan oleh sang maha cendikiawan agar kau dapat melihat aku,kakak, dan juga adik berbahagia karena sudah dapat menjadi sang juara.
Lalu kita pun dapat membuat kau dan juga ayah berbahagia kerena bangga sudah berhasil menjadikan anak-anaknya sebagai sang juara.
Bu, hanya kata maaf yang dapat aku ucapkan, sebab aku belum dapat berkorban untuk membuat kau senang dengan hati yang riang.
Aku hanya ingin;
Kau jangan dulu hilang, sebab hati ini tidak dapat lapang.
Jangan dulu pergi, sebab diri ini sudah teradiksi.
Tetap menjadi orang yang selalu bertahan lalu dapat membahagiakan, dan selalu dapat menjadi seorang panutan.
Terima kasih sudah mengajarkanku untuk selalu berjuang agar dapat menjadi seorang pemenang.
Komentar
Posting Komentar