TERISAK SAMPAI SESAK
sepulang bermain tiba-tiba di pelataran rumah juga di dalamnya ramai dengan orang-orang. Ada yang mengaji ada juga yang menangis. Tanpa bisa bicara rasa ini sudah tidak karuan, antara percaya juga tidak. Semua berpakaian hitam, di depan rumah ada bendera kuning. Kita lekas lari menghampiri tanpa basa-basi. Bagaimana rasanya jika bahagia diganti dengan luka secara tiba-tiba? Apa kita bisa menerima dengan begitu saja? Air mawar sudah dituangkan, mawar merah beserta kembang lainnya sudah habis dilahap oleh si tanah merah. Batu nisan berdiri kokoh tetapi orang yang mengamatinya sedang layu dengan rasa yang sedu. Sudah tidak ada lagi yang membangunkan sholat subuh dengan alibi "nak bangun, sudah jam setengah enam waktu subuh sudah habis" padahal adzan saja baru dikumandangkan. Tetapi, itu satu-satunya cara agar kita selalu patuh pada Sang Maha tanpa terlena. Bagaimana jika wanita nomor satu dalam keluarga sudah tidak lagi ada? Sudah pasti air mata menetes tanpa jeda....