SEMESTA YANG MEMBUAT KITA SALING SAPA
Terimakasihlah kepada sang pencipta, karena telah memberi kejutan diluar ekspektasi yang tidak pernah terlintas dalam diri. Sang pencipta memang sudah merencanakan apa yang akan terjadi dan kita sebagai ciptaannya hanya dapat menjalankan yang disertai dengan keikhlasan dan kesabaran.
Semesta akan terus berputar, semua berubah dan tidak lagi sama. Kupikir setelah ada jeda akan berhenti begitu saja. Nyatanya kita tetap menjadi teman bercerita.
Kau harus mengetahui bahwa, bukan hanya sekedar menyapa lalu dapat bersama, tetapi juga dapat menjadi yang dipercaya dan tidak membuat kecewa. Sebab, itu hanya membuat hati menjadi nelangsa.
Apa kalian pernah berpikir bahwa, ingin rasanya seperti anak balita saja, yang belum mengerti apa-apa. Bahkan adanya perubahan semesta saja mereka merasa biasa saja dan tidak paham dengan adanya sebuah rasa istimewa. Mereka hanya paham dengan rasa bahagia jika apa yang diinginkannya sudah terpenuhi semua.
Ternyata menjadi seorang remaja yang ingin menuju dewasa itu rumit ya, terlalu banyak hal yang tidak diinginkan tetapi menjadi kenyataan.
Apa di masa ini kita semua merasakan dan mulai paham dengan yang namanya sebuah kenyamanan dengan seseorang? Aku tidak paham dan tidak dapat menjelaskan. Sebab, aku hanya dapat diam dengan segala rasa yang bungkam.
Disini, entah siapa yang paling hebat berdusta,entah siapa yang paling hebat terluka. Jika pada akhirnya kita bisa saling mengisi, semoga kita tidak mengisinya dengan dusta yang seolah-olah membaikkan. Karena, pada akhirnya kita hanya akan penuh oleh luka, alih-alih berusaha bersuka cita.
Setelah bersua tidak lagi bersuara. Diam membisu tanpa banyak beradu. Hening yang menciptakan sepi,
Membuat banyaknya pertanyaan;
Apakah dia baik-baik saja, tuhan?
Dia pernah memberi sebuah kata untukku, bahwa;
Jangan lupa untuk selalu memberi kabar, agar nantinya tidak berakhir dengan hambar. Tetapi sekarang sapa sudah tidak lagi ada, cerita sudah tidak lagi sama, dan
Kata sudah menjadi hampa.
Boleh aku membenci?
Aku benci dengan hal-hal yang tidak jelas,
Dengan hal yang membuatku menangis,
Tetapi sebenarnya tidak patut untuk ditangisi.
Sebut saja aku ini anak kecil yang cengeng.
Jika tidak dituruti apa maunya pergi begitu saja.
Lalu, berada di bawah kolong meja sambil menutup mata, nangis terisak sambil merasakan rasa yang sesak.
Hujan membuat semesta basah, bau abu di aspal semakin menyengat. Tentang hal yang dulu kembali diingat, dan
Semakin kuat sesak yang membuat terisak.
Tempat sebaik-baiknya berteduh ialah rumah.
Terdapat kehangatan yang selalu dinantikan, pelukan ibu selalu menjadi tujuan, manusia yang selalu siap menerima segala beban, untuk menerima segala rasa yang kupunya. Bahkan, jika sedang resah dia dapat membuatku berbahagia. Dan semangat menjadi kuat, sebab banyaknya pengingat. Kemana pun kau melangkah,
Rumah selalu menetap. Untuk kau kembali berpijak, dan
Cerita kembali terucap.
Bukan tentang hal itu saja yang harus kau rasa.
Masih banyak jalan menuju roma, untuk merasakan hal yang luar biasa, agar kau dapat berbahagia.
Jangan patah semangat, sebab itu tidak patut diingat,
Jangan kecewa, sebab masih banyak hal yang harus kau rasa agar menjadi bahagia.
Jangan membenci, sebab dia sedang memperbaiki diri untuk itu dia pergi agar tidak teradiksi.
Aku hanya berpesan;
Jangan peduli jika hanya sekedar memberi empati, jangan mencoba ingin membuat bahagia jika hanya iba.
Kau hebat pergi tanpa siasat, kupikir ini memang kerjaannmu. Pergi tanpa alibi, berlari tanpa kompromi, sudah diberi penjelasan tiba-tiba meninggalkan.
Kau yang berbuat tetapi aku yang merasakan.
Memang, ini sebuah kisah tragis dibuat kecewa untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Pergi tanpa meninggalkan kata, sapa sudah tidak lagi bersama, resah dan kecewa menjadi kawan sejalan.
Ingin marah, sebab kau pergi begitu saja.
Ingin menangis, sebab kau sudah ingkar dengan rencana yang sudah dibuat.
Kau hebat, sudah membuatku teradiksi, setelahnya kau pergi tanpa basa-basi.
Aku ingin mengucapkan;
Terimakasih untuk segala kecewa yang telah ada, terimakasih untuk segala luka yang telah kau bawa, terimakasih untuk segala rasa sampai tidak lagi bernyawa, terimakasih untuk segala harap yang telah hilang, dan terimakasih untuk segala kata yang belum sempat menjadi nyata. Terlalu banyak kata dan cerita sampai lupa sudah berada di episode keberapa kau menjadi tokoh yang membuat orang kecewa.
Mempunyai paradigma yang seperti apa?
Kami sama-sama diam memendam rasa yang bungkam.
Kami sama-sama tersungkur sampai akhirnya
Baru menyadari Jika kami sudah berada didalam kubur.
Saling menyesal, sebab tidak dapat membuat bahagia.
Menyesal pernah dekat, tetapi hanya menjadi sesak.
Menyesal pernah membuat kecewa dan doa belum menjadi nyata untuk menjadi orang yang berguna.
Satu diantara kami harus ada yang mengalah untuk memperbaiki ini semua. Sebab, jika sama-sama diam kita tidak akan mengetahui tentang adanya yang berkabung, dan segala rasa yang mempunyai banyak makna.
Dan yang harus mengalah itu aku. Aku yang mempunyai banyak pertanyaan;
Mengapa harus berjauhan, jika tidak ada pertengkaran?
Mengapa harus pergi, jika kita belum sempat berdiskusi?
Terjadinya selisih paham, sebab tidak ada yang menjelaskan. Semua lari, pergi.
Tanpa ada yang ingin memberi sedikit alibi.
Kau hanya bisa berkata, tetapi tidak dapat menjaga.
Hanya bisa pergi , tetapi tidak dapat memberi alibi.
Setelah kuberi penjelasan dan pemahaman hubungan ini kian membaik, maka untuk sekarang;
Jangan pergi tanpa pamit sebab itu hanya membuat hati menjadi sakit dan jangan lupa untuk selalu memberi kabar, agar tidak berakhir dengan hambar.
Kau harus mengetahui tentang ini, bahwa;
Aku ingin berdiskusi tentang semesta yang sudah berkonspirasi dan kita yang sudah teradiksi, lalu jika kau semakin perhatian maka semakin pula ada rasa tidak ingin kehilangan dan jika kau semakin acuh maka semakin pula ada rasa ingin banyak ba bi bu.
Kita ini hanya dekat yang tidak dapat merekat dan kau adalah orang yang membuat adanya ceritaku dalam sebuah diksi yang menjadi sebuah puisi.
Terima kasih.
Semesta akan terus berputar, semua berubah dan tidak lagi sama. Kupikir setelah ada jeda akan berhenti begitu saja. Nyatanya kita tetap menjadi teman bercerita.
Kau harus mengetahui bahwa, bukan hanya sekedar menyapa lalu dapat bersama, tetapi juga dapat menjadi yang dipercaya dan tidak membuat kecewa. Sebab, itu hanya membuat hati menjadi nelangsa.
Apa kalian pernah berpikir bahwa, ingin rasanya seperti anak balita saja, yang belum mengerti apa-apa. Bahkan adanya perubahan semesta saja mereka merasa biasa saja dan tidak paham dengan adanya sebuah rasa istimewa. Mereka hanya paham dengan rasa bahagia jika apa yang diinginkannya sudah terpenuhi semua.
Ternyata menjadi seorang remaja yang ingin menuju dewasa itu rumit ya, terlalu banyak hal yang tidak diinginkan tetapi menjadi kenyataan.
Apa di masa ini kita semua merasakan dan mulai paham dengan yang namanya sebuah kenyamanan dengan seseorang? Aku tidak paham dan tidak dapat menjelaskan. Sebab, aku hanya dapat diam dengan segala rasa yang bungkam.
Disini, entah siapa yang paling hebat berdusta,entah siapa yang paling hebat terluka. Jika pada akhirnya kita bisa saling mengisi, semoga kita tidak mengisinya dengan dusta yang seolah-olah membaikkan. Karena, pada akhirnya kita hanya akan penuh oleh luka, alih-alih berusaha bersuka cita.
Setelah bersua tidak lagi bersuara. Diam membisu tanpa banyak beradu. Hening yang menciptakan sepi,
Membuat banyaknya pertanyaan;
Apakah dia baik-baik saja, tuhan?
Dia pernah memberi sebuah kata untukku, bahwa;
Jangan lupa untuk selalu memberi kabar, agar nantinya tidak berakhir dengan hambar. Tetapi sekarang sapa sudah tidak lagi ada, cerita sudah tidak lagi sama, dan
Kata sudah menjadi hampa.
Boleh aku membenci?
Aku benci dengan hal-hal yang tidak jelas,
Dengan hal yang membuatku menangis,
Tetapi sebenarnya tidak patut untuk ditangisi.
Sebut saja aku ini anak kecil yang cengeng.
Jika tidak dituruti apa maunya pergi begitu saja.
Lalu, berada di bawah kolong meja sambil menutup mata, nangis terisak sambil merasakan rasa yang sesak.
Hujan membuat semesta basah, bau abu di aspal semakin menyengat. Tentang hal yang dulu kembali diingat, dan
Semakin kuat sesak yang membuat terisak.
Tempat sebaik-baiknya berteduh ialah rumah.
Terdapat kehangatan yang selalu dinantikan, pelukan ibu selalu menjadi tujuan, manusia yang selalu siap menerima segala beban, untuk menerima segala rasa yang kupunya. Bahkan, jika sedang resah dia dapat membuatku berbahagia. Dan semangat menjadi kuat, sebab banyaknya pengingat. Kemana pun kau melangkah,
Rumah selalu menetap. Untuk kau kembali berpijak, dan
Cerita kembali terucap.
Bukan tentang hal itu saja yang harus kau rasa.
Masih banyak jalan menuju roma, untuk merasakan hal yang luar biasa, agar kau dapat berbahagia.
Jangan patah semangat, sebab itu tidak patut diingat,
Jangan kecewa, sebab masih banyak hal yang harus kau rasa agar menjadi bahagia.
Jangan membenci, sebab dia sedang memperbaiki diri untuk itu dia pergi agar tidak teradiksi.
Aku hanya berpesan;
Jangan peduli jika hanya sekedar memberi empati, jangan mencoba ingin membuat bahagia jika hanya iba.
Kau hebat pergi tanpa siasat, kupikir ini memang kerjaannmu. Pergi tanpa alibi, berlari tanpa kompromi, sudah diberi penjelasan tiba-tiba meninggalkan.
Kau yang berbuat tetapi aku yang merasakan.
Memang, ini sebuah kisah tragis dibuat kecewa untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Pergi tanpa meninggalkan kata, sapa sudah tidak lagi bersama, resah dan kecewa menjadi kawan sejalan.
Ingin marah, sebab kau pergi begitu saja.
Ingin menangis, sebab kau sudah ingkar dengan rencana yang sudah dibuat.
Kau hebat, sudah membuatku teradiksi, setelahnya kau pergi tanpa basa-basi.
Aku ingin mengucapkan;
Terimakasih untuk segala kecewa yang telah ada, terimakasih untuk segala luka yang telah kau bawa, terimakasih untuk segala rasa sampai tidak lagi bernyawa, terimakasih untuk segala harap yang telah hilang, dan terimakasih untuk segala kata yang belum sempat menjadi nyata. Terlalu banyak kata dan cerita sampai lupa sudah berada di episode keberapa kau menjadi tokoh yang membuat orang kecewa.
Mempunyai paradigma yang seperti apa?
Kami sama-sama diam memendam rasa yang bungkam.
Kami sama-sama tersungkur sampai akhirnya
Baru menyadari Jika kami sudah berada didalam kubur.
Saling menyesal, sebab tidak dapat membuat bahagia.
Menyesal pernah dekat, tetapi hanya menjadi sesak.
Menyesal pernah membuat kecewa dan doa belum menjadi nyata untuk menjadi orang yang berguna.
Satu diantara kami harus ada yang mengalah untuk memperbaiki ini semua. Sebab, jika sama-sama diam kita tidak akan mengetahui tentang adanya yang berkabung, dan segala rasa yang mempunyai banyak makna.
Dan yang harus mengalah itu aku. Aku yang mempunyai banyak pertanyaan;
Mengapa harus berjauhan, jika tidak ada pertengkaran?
Mengapa harus pergi, jika kita belum sempat berdiskusi?
Terjadinya selisih paham, sebab tidak ada yang menjelaskan. Semua lari, pergi.
Tanpa ada yang ingin memberi sedikit alibi.
Kau hanya bisa berkata, tetapi tidak dapat menjaga.
Hanya bisa pergi , tetapi tidak dapat memberi alibi.
Setelah kuberi penjelasan dan pemahaman hubungan ini kian membaik, maka untuk sekarang;
Jangan pergi tanpa pamit sebab itu hanya membuat hati menjadi sakit dan jangan lupa untuk selalu memberi kabar, agar tidak berakhir dengan hambar.
Kau harus mengetahui tentang ini, bahwa;
Aku ingin berdiskusi tentang semesta yang sudah berkonspirasi dan kita yang sudah teradiksi, lalu jika kau semakin perhatian maka semakin pula ada rasa tidak ingin kehilangan dan jika kau semakin acuh maka semakin pula ada rasa ingin banyak ba bi bu.
Kita ini hanya dekat yang tidak dapat merekat dan kau adalah orang yang membuat adanya ceritaku dalam sebuah diksi yang menjadi sebuah puisi.
Terima kasih.
Terus berkarya nadaaaaa
BalasHapusTerus berkarya nadaaaaa
BalasHapusSiappp,doain yaaa hehe
BalasHapus