SURAT UNTUK KITA
Kita masih ada tetapi sudah berbeda. Masih berpijak di atas semesta, masih meminta di atas sejadah, dan semoga saja bahagia selalu merekah. Doa kita searah, tetapi hati dan raga berlawanan. Berjalan ke depan tidak harus selalu bersama. Tetapi, doa jangan sampai berhenti dan selalu dijaga.
Hujan membuat semesta basah, bau abu di aspal semakin menyengat. Tentang hal yang dulu kembali diingat, dan semakin kuat sesak yang membuat terisak. Setelah bersua tidak lagi bersuara. Diam membisu tanpa banyak beradu.
Hening yang menciptakan sepi, membuat banyaknya pertanyaan; apakah dia baik-baik saja, tuhan?
Ternyata bulan itu sesak semakin menggebu, sepi menjadi satu, rasa yang bungkam sulit untuk padam, dan rasa rindu selalu mengelabuhiku. Pada kala itu nangis sudah tidak dapat dicegah, emosi sudah menggebu-gebu, dan kecewa menjadi nomor satu. Mungkin itu ujian dari tuhan, seberapa lamanya aku dapat bertahan untuk menerima segala kejutan yang datang. Disini aku merasakan sebuah kehilangan, patah harap, langkah tanpa arah, dan rasanya ingin menyerah saja. Tetapi, pikiran lagi-lagi selalu datang untuk aku dapat bertahan dan terus berjuang.
Jika nanti kau sudah lelah melangkah tanpa ada seorang aku yang selalu mengucapkan kata semangat dan doa menjadi penguat. Maka, pulanglah kepadaku yang sudah menyiapkan bahu dan pelukan hangat, juga telinga yang setia dijadikan tempat untuk mendengarkan cerita tentang kau melangkah tanpa seorang aku di dunia yang fana dan semesta dengan segala kejutannya, sehingga menimbulkan rasa yang mempunyai banyak makna. Tempat sebaik-baiknya berteduh ialah rumah. Terdapat kehangatan yang selalu dinantikan.
Pesanku untukmu hanya ; selalu libatkan sang pencipta dalam segala sesuatunya, usaha dijadikan sebagai penguat, dan ibadah dijadikan perantara untuk meminta. Sebab, tanpa doa kita tidak akan menjadi manusia dan tanpa usaha kita tidak akan menjadi yang bermakna. Kemana pun kau melangkah, rumah selalu menetap untuk kau kembali berpijak, dan cerita kembali terucap.
Jangan lupa tentang suatu hal, bahwa ; perpisahan yang menyakitkan adalah pergi tanpa meninggalkan sebuah pesan dan pertemuan yang menyenangkan adalah membuat kenangan lalu segala harapan yang diusahakan bersama untuk menjadi sebuah masa depan. Jadi, kau tinggal pilih mau yang mana? Tetapi, jika tidak dapat membuat bahagia maka jangan kau buat kecewa ya.
Segala kata dan harap yang selalu disampaikan, untuk kau yang disemogakan; semoga bahagia dengan segala rasa yang berdebah.
Hujan membuat semesta basah, bau abu di aspal semakin menyengat. Tentang hal yang dulu kembali diingat, dan semakin kuat sesak yang membuat terisak. Setelah bersua tidak lagi bersuara. Diam membisu tanpa banyak beradu.
Hening yang menciptakan sepi, membuat banyaknya pertanyaan; apakah dia baik-baik saja, tuhan?
Ternyata bulan itu sesak semakin menggebu, sepi menjadi satu, rasa yang bungkam sulit untuk padam, dan rasa rindu selalu mengelabuhiku. Pada kala itu nangis sudah tidak dapat dicegah, emosi sudah menggebu-gebu, dan kecewa menjadi nomor satu. Mungkin itu ujian dari tuhan, seberapa lamanya aku dapat bertahan untuk menerima segala kejutan yang datang. Disini aku merasakan sebuah kehilangan, patah harap, langkah tanpa arah, dan rasanya ingin menyerah saja. Tetapi, pikiran lagi-lagi selalu datang untuk aku dapat bertahan dan terus berjuang.
Jika nanti kau sudah lelah melangkah tanpa ada seorang aku yang selalu mengucapkan kata semangat dan doa menjadi penguat. Maka, pulanglah kepadaku yang sudah menyiapkan bahu dan pelukan hangat, juga telinga yang setia dijadikan tempat untuk mendengarkan cerita tentang kau melangkah tanpa seorang aku di dunia yang fana dan semesta dengan segala kejutannya, sehingga menimbulkan rasa yang mempunyai banyak makna. Tempat sebaik-baiknya berteduh ialah rumah. Terdapat kehangatan yang selalu dinantikan.
Pesanku untukmu hanya ; selalu libatkan sang pencipta dalam segala sesuatunya, usaha dijadikan sebagai penguat, dan ibadah dijadikan perantara untuk meminta. Sebab, tanpa doa kita tidak akan menjadi manusia dan tanpa usaha kita tidak akan menjadi yang bermakna. Kemana pun kau melangkah, rumah selalu menetap untuk kau kembali berpijak, dan cerita kembali terucap.
Jangan lupa tentang suatu hal, bahwa ; perpisahan yang menyakitkan adalah pergi tanpa meninggalkan sebuah pesan dan pertemuan yang menyenangkan adalah membuat kenangan lalu segala harapan yang diusahakan bersama untuk menjadi sebuah masa depan. Jadi, kau tinggal pilih mau yang mana? Tetapi, jika tidak dapat membuat bahagia maka jangan kau buat kecewa ya.
Segala kata dan harap yang selalu disampaikan, untuk kau yang disemogakan; semoga bahagia dengan segala rasa yang berdebah.
Komentar
Posting Komentar