CERITA LAMA KITA


Hai anak-anak pemberontak bagaimana dengan keadaan? Semoga selalu diiringi dengan kesehatan, Lalu dapat melakukan aktivitas dengan nyaman, ya.


Ternyata sudah tidak lagi bersama membuat kerinduan yang mendalam. Rindu dengan segala cerita yang sudah bungkam. Tentang kita sujud di tempat yang sama, tentang sang pendidik yang suka memberi kita nasihat berkali-kali karena kita yang tidak tahu diri, tentang kita yang suka belajar bersama di depan asrama atau dirumahnya sang pencipta, tentang adanya sebuah kerja sama yang tidak ada kata lelah demi dipandang bagus untuk sebuah acara, tentang kita yang suka beradu argumentasi jika sudah lelah dalam acara dan jika dimintai sebuah pendapat tidak pernah sekali langsung selesai dibahas, butuh kericuhan baru ada kesepakatan.


Tetapi, itu semua tidak mengurangi rasa semangat yang kita punya untuk tetap bersama, tentang malam jum'at yang suka memikirkan bagaimana jika sudah tidak lagi bersama, apa kita akan tetap saling sapa atau sulit untuk berjumpa? Nyatanya kita sekarang sulit untuk berjumpa, bersapa lewat gawai saja rasanya sudah tidak lagi seperti kita berada di asrama. Hanya beberapa orang saja yang terdapat dalam grup untuk saling sapa dan membahas segala hal yang tidak istimewa dan itu dilakukan hanya untuk mempertahankan sebuah kebersamaan, iya bukan?


Perbincangan sederhana kita waktu itu, ternyata masih terngiang di telinga. Mau lanjut kemana setelah ini? Jadi guru disini sampai punya rumah pribadi! Nanti kita diluar gimana ya? Jaga diri baik-baik kuliah di perguruan tinggi yang liberal! Kuliah di bandung kalo ga jogja enak kali ya, banyak akang sunda yang ngomongnya lembut atau banyak mas-mas jawa yang ngomongnya medok dengan segala seribu bahasanya, kuliah di kampus ternama menjadi impian kita semua.


Sekarang sudah tidak ada lagi doa agar diberikan keturunan yang baik jika guru favorit lewat sambil menunjukkan senyum merekahnya, sudah tidak ada lagi lirik-lirikkan mata jika sedang diberi petuah oleh abah tercinta, sudah tidak ada lagi sesak yang membuat terisak sambil melemparkan pelukan hangat, sudah tidak ada lagi satu piring untuk lima orang atau bahkan bisa lebih. Ternyata diwisuda dan keluar asrama bersama membuat adanya sebuah duka, karena sudah tidak ada lagi rasa yang sama dan tidak dapat lagi membuat sebuah cerita lama.


Intinya dimanapun kita berada, jangan lupa untuk selalu libatkan sang pencipta dalam segala sesuatunya agar mendapatkan kebahagiaan dengan sesungguhnya dan jangan lupa agar silaturrahmi selalu terikat, lalu jangan lupa dengan janji yang pernah kita buat.


Jika nanti kita bertemu disebuah kota, Jangan lupa untuk saling bertegur sapa, lalu berlanjut untuk bercengkrama. Membahas tentang dulu kita berada di asrama atau tentang keluh kesah menjadi seorang mahasiswa dan tentang sulitnya mengurusi santri dalam mengabdi.


Kita Pernah satu rasa dalam arah yang sama, bereuforia dihari bersejarah, pilu membiru dalam waktu yang sedu, dan
perpisahan menjadi hal yang haru, tetapi itu proses dari segala kehidupan. Sapa sudah tidak lagi sesering waktu itu, cerita sudah tidak lagi sama seperti dulu, kita saling melemparkan rindu, tetapi waktu tidak mengizinkan kita untuk temu. Dimanapun kita berada, kita masih tetap sama.
Berpijak di atas semesta, dan meminta di atas sejadah.
Kelak kita akan mempunyai cerita masing-masing dari segala perjalanan kehidupan yang mempunyai banyak kejutan.

Untuk keluarga kedua setelah rumah;
Jaga diri baik-baik, diluar sana banyak manusia yang hipokrit, ada juga yang baik sampai sulit untuk didefinisi. Selamat menjalankan dan merasakan kehidupan yang lebih beragam, masih banyak yang harus kita perjuangkan untuk bisa sampai titik menang. Terkadang kehidupan tidak sesuai keinginan, oleh sebab itu jangan berharap pada ekspektasi sendiri, terima apa yang ada, usaha dan doa jadikan perantara dalam bekerja pada semesta.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERDUA ITU KITA

RESTU UNTUK SATU TUJU

JODOH YA?