SEBELUM SEPERTI INI

Dulu dari setiap kita bisa keluar bebas tanpa ada rasa cemas, banyak yang hilir mudik, bernafas dengan lega tanpa menggunakan masker, dan duduk berdekatan bak orang yang mempunyai hubungan persahabatan. Namun sekarang jalanan ibu kota tidak padat seperti biasanya, mobil roda empat juga motor roda dua, bisa dihitung jari.
Jakarta, bak kota yang tidak hidup lagi.
Semangat penduduknya sudah berkurang untuk berdedikasi. Jika pada saat malam minggu banyak manusia berseteru untuk menghabiskan waktu yang pilu, sekarang malam minggu menjadi haru. Semua dirumahnya masing-masing, saling tatap melalui sosial media saja, tanpa temu seperti biasanya. Tetapi tak apalah itu dapat mengurangi segala keji dalam diri manusia yang sering tidak sadar atas apa yang sudah dilakukannya. Atau sudah ada yang sadar, tetapi telah nyaman dilakukan sampai berkelanjutan sehingga terjebak dalam zona kesesatan.
Mungkin pandemi ini terjadi atas perlakuan kita sendiri tanpa disadari. Segala hal yang ada di dalam semesta ini semua sudah rencana Sang Maha, kita sebagai ciptaannya hanya bisa menerima. Jika yang ada itu hal baik membuat bahagia maka patut ucapkan terimakasih padanya, tetapi jika hal buruk yang membuat duka. Maka, doa menjadi perantara agar tidak ada yang luka.
Pintu bandara sudah lengang, kursi di kereta tidak lagi terisi penuh oleh puluhan manusia,  dan semua perjalanan kapal di berhentikan. Ada yang memaksa pulang ke kampung halamannya untuk mengobati segala rindu pada keluarganya, ada juga yang menetap di dalam rumah demi menjaga kebaikan bersama.
Hal sederhana yang harus kita lakukan sekarang, yaitu banyak-banyak mengucapkan kata kepada Sang Maha, lalu memohon ampun padanya. Karena, kebanyakan dari manusia rindu pada hingar bingarnya kota, bukan sujud di tempat ibadah Sang Maha.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERDUA ITU KITA

RESTU UNTUK SATU TUJU

JODOH YA?