RINTIHAN MANUSIA-MANUSIA KUAT


Untuk manusia yang sama tetapi beda rasa.
Disini, di tempat ini.
Kami yang hidup juga bernafas di pedalaman.
Penerangan hanya menggunakan lampu petromaks,
Ingin mandi harus menimba air terlebih dahulu, dari sumur yang dalam, itu juga sudah tercampur dengan lumut hijau yang licin juga menempel di dinding-dinding.

Tinggal dalam rumah yang pondasinya tidak sekuat tembok cina, tidur hanya menggunakan tikar coklat, edukasi hanya sekedar mengenal angka. Jarang disini, ada manusia yang komprehensif. Bagaimana ingin komprehensif, kalau usia enam tahun saja tidak lagi ada perantara untuk meraih cita-cita, melainkan mendampingi bapak yang sedang bekerja dibawah teriknya matahari disana.

Tubuh bapak yang bungkuk masih dituntut untuk mencari rupiah yang tidak seberapa harganya, tetapi itu cukup untuk menghidupi keluarga yang tinggal di dalam gubuk.
Begitupun dengan ibu yang harus mengayam tikar untuk membantu bapak mencari rupiah dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak ada waktu berfoya-foya untuk mereka, agar dapat merasakan bahagia sekali saja dalam hidupnya.

Usaha yang keras juga doa yang tidak pernah berhenti diutarakan, menjadi perantara mereka dalam kehidupan.
Kepada kita semua, yang sudah dapat merasakan makan juga minum tanpa henti. Terimakasihlah kepada sang maha, atas segala kejutan dan kehidupan dalam semesta.
Tidak semua manusia dapat merasakan rasa yang sama. Semua ada konversinya dari setiap cerita.

Kalau saja aristokrasi dapat terjadi lagi,
Kami akan distorsi atas semua yang telah terjadi.
Jika bisa menggunakan logika skuensial, kami ingin merasakan apa yang dirasa oleh bapak.
Dapat hidup mewah, tinggal bagaikan dalam istana.
Tidur nyenyak, tanpa merasakan atmosfer yang membuat resah dan tidak bergairah.

Katanya, kau ingin memberdayakan manusia,
Nyatanya kau sama saja hipokrit juga.
Bagaimana kami ingin damai sentosa,
Tanpa ada demokrasi, juga ambisi berkelahi?
Jika kau saja tidak eksplisit atas omong kosongmu itu yang berada di atas panggung. Culas atas semua yang terjadi. Semua ada permainannya, bak monopoli anak kecil yang terdapat konspirasi didalamnya jika dimainkan.

Kendati kau seperti itu, kami tetap hormat sesuai tabiat.
Kami hanya ingin memberitahu,
Jika disini, pangan kami tidak seenak makanan di ibu kota,
sandang kami tidak lagi diperhatikan, dan
Papan kami sudah sering keruntuhan daun-daun akibat angin pantai yang selalu kencang. Berbeda dengan bangunan disana yang sangat masif berdiri.

Maka, untuk kita semua. Jika berkeluh kesah, ingat dibawah kita masih ada yang sengsara. Jika kau merasa istimewa, ingat di atas kita masih ada yang mempunyai segalanya, yaitu sang maha. Tidak lain, kita ini hanya manusia biasa. Hanya saja kita diberikan kesempatan untuk merasakan kehidupan yang lebih baik dari mereka. Bersyukurlah atas segala yang ada.

Kepada manusia yang sama tetapi beda rasa;
Dengan segala hormat, mohon tengok sedikit ke belakang.
Agar mengetahui keadaan kami yang berada di pedalaman.
Ingin kami tidak banyak. Ingin kami sederhana;
Kami hanya ingin hidup yang berkecukupan bukan berlebihan. Kami hanya ingin hidup layaknya manusia-manusia dalam kota, walaupun ada yang resah, tetapi masih bisa merasakan canda tawa yang merekah.


Komentar

Posting Komentar