TERISAK SAMPAI SESAK
sepulang bermain tiba-tiba di pelataran rumah juga di dalamnya ramai dengan orang-orang. Ada yang mengaji ada juga yang menangis. Tanpa bisa bicara rasa ini sudah tidak karuan, antara percaya juga tidak.
Semua berpakaian hitam, di depan rumah ada bendera kuning. Kita lekas lari menghampiri tanpa basa-basi.
Bagaimana rasanya jika bahagia diganti dengan luka secara tiba-tiba? Apa kita bisa menerima dengan begitu saja?
Air mawar sudah dituangkan, mawar merah beserta kembang lainnya sudah habis dilahap oleh si tanah merah.
Batu nisan berdiri kokoh tetapi orang yang mengamatinya sedang layu dengan rasa yang sedu.
Sudah tidak ada lagi yang membangunkan sholat subuh dengan alibi "nak bangun, sudah jam setengah enam waktu subuh sudah habis" padahal adzan saja baru dikumandangkan. Tetapi, itu satu-satunya cara agar kita selalu patuh pada Sang Maha tanpa terlena.
Bagaimana jika wanita nomor satu dalam keluarga sudah tidak lagi ada? Sudah pasti air mata menetes tanpa jeda.
Bagaimana jika laki-laki yang selalu pergi sebelum matahari terbit dan pulang ketika matahari sudah tidak tampak lagi lalu ia berbarengan tidak lagi menghampiri? Pasti ada sesak yang membuat terisak. Bagaimanapun juga walau suka marah tiba-tiba atau bahkan sampai tidak bisa padam dia adalah orang yang selalu berusaha untuk membuat keluarga bahagia.
Jaga baik-baik orang tua kita selama masih ada, buat mereka bahagia sebelum tambah kecewa dengan apa yang sudah kita perbuat selama ini tanpa rasa bersalah. Ingat selalu bahwa dari segala keberhasilan kita juga dari usaha orang tua yang selalu sertakan doa dalam setiap sujudnya juga untaian-untaian semangat tanpa diperlihatkan.

Komentar
Posting Komentar