RESTU UNTUK SATU TUJU
Malam minggu kemarin dia singgah sebentar ke rumahku, katanya ingin lebih dekat dengan ibu juga ayah. Kita mendengarkan lagu kunto aji topik semalam di tengah ramainya jakarta dengan kemacetan. Ada kata yang dia ucapkan bahwa "Bertahan lebih lama lagi ya untuk kita, agar bisa berdampingan merajut asa dalam masa yang panjang". Restu ayah juga ibumu adalah bait dari cerita kita untuk menempuh satu tuju. Aku hanya tersenyum mendengar itu semua, dia sudah memberiku kecup paling indah di pucuk penghujung malam itu lalu diberikannya sebuah bunga mawar merah beserta kotak kecil yang kelihatannya mewah. Ternyata, benar saja isi di dalamnya tidak kalah mewah untuk membuat bahagia manusianya.
Dia berbincang banyak dengan ibu, katanya dia ditanya Tuhanmu Apa? Bekerja dimana? Latar belakang keluarganya bagaimana? Lulusan kuliah dari mana? Ternyata banyak hal yang ibu tanyakan kepadanya, bak wartawan yang tidak akan berhenti bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang sesuai dengan tujuan untuk di jadikan incaran saja ibuku ini. Dia yang ditanya tetapi aku yang tidak karuan. Ibuku seorang panutan, yang tidak akan memberi izin masuk kepada sembarang orang untuk menjaga putrinya. Ayahku seorang pekerja keras, yang tidak pernah lelah mencari sebuah rupiah untuk membuat keluarganya bahagia. Pada malam itu ayahku belum pulang kerja jadi hanya ibu yang mengajaknya bicara, lalu adikku di ajak bermain dengannya sampai di belikan coklat kesukaannya. Aku bahagia melihat dia akrab dengan adikku, sebab, aku mencari seorang tuan yang tidak hanya menyayangi seorang diriku saja tetapi juga keluargaku seutuhnya.
"Sudah larut malam aku pulang ya" kata dia sambil memakai helm yang berada di motornya. Aku tersenyum karena malam itu sangat bahagia. "Hati-hati di jalan, kabarkan aku jika sudah sampai rumah" jawabku dengan hati yang tidak karuan. Setelah itu dia menyalakan motornya sambil memberi gaya hormat, bak pak soekarno sedang upacara bendera. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan masih ada ibu yang sedang duduk di sofa sambil menikmati kue coklat yang tadi dia belikan. Aku pamit pada ibu untuk ke kamar terlebih dahulu. Sampai kamar aku memikirkan tentang apa yang sudah terjadi, apa ibu serta ayah akan memberikan restu untuk kita agar sampai satu tuju? Apa ibu akan menerima dia sebagai menantu yang dicinta? Apa ayah akan setuju dengan dia untuk di jadikan kepala keluarga nantinya? Banyak pertanyaan dengan diriku sendiri yang menginginkan sebuah jawaban kebahagiaan.
Esok harinya setelah pertanyaan-pertanyaan kemarin aku tutup dengan mimpi indah, pagi hari dia menelponku untuk menanyakan tentang ayah juga ibu mengenai perihal restu.
Setelah itu tidak lama kemudian ibu juga ayah memanggilku untuk ke ruang keluarga karena ingin berbicara. Malam kemarin setelah ayah pulang kerja aku tidak mengetahui ibu berkata apa kepadanya. Entah, bercerita tentang dia yang sudah datang ke rumah lagi untuk kedua kalinya atau tentang kehidupan dunia yang tidak ada habisnya dengan sebuah perubahan-perubahan.
Ayah bilang padaku "nak, lebih baik kau akhiri hubunganmu dengan lelaki itu" aku diam sejenak karena sesak yang ingin terisak. "Memang kenapa yah?" jawabku dengan lesuh. Ayah hanya menjawab untuk mencari laki-laki yang lebih baik lagi agar nantinya aku lebih mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan pernah padam.
Malam itu rasanya sangat indah seperti mimpi yang diinginkan oleh banyak manusia, tetapi hari ini menjadi goresan luka untuk diri sendiri dan dia yang sudah berusaha. Sayang, jika bersama menjadi tujuan utama membuat bahagia. Maka, kita jaga berdua agar tidak ada luka. Usaha saja tidak cukup untuk melangkah dalam satu arah.
Maka, doa menjadi rahasia dengan Sang Maha.
Aku disini dengan segala rasa ragu tetapi juga ingin beradu, kau disana dengan segala rasa cemas yang bedebah. Ada pilu yang membiru, seperti lagu kunto aji. Ada rindu tentang dulu yang berucap malu-malu. Ada kau yang entah dimana, tetapi pastinya masih berpijak di atas semesta dan bahagia menjadi tujuan utama. Ada aku disini, sedang memikirkan tentang segala harap kita yang sudah setinggi mercusuar, tetapi sudah hancur sebelum dikejar.

ka ada part 2 nya ga ? uhhhh ini nynetuh bgttt ceritnya :( kebawa nyeseknya loh akutuh wkwk
BalasHapusTunggu aja yaaa, makasih sudah membaca🙏😊
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusIni gimana ya?
HapusAhh membuat beban dipikiran untuk hubungan ini kedepannya :(
BalasHapusmenunggu part 2☹️
BalasHapusSilahkan nikmati tulisan saya kelanjutannya Restu
HapusKeren bgt si ka nada
BalasHapusMakasih ka shafa:)
Hapus