JAWABAN DARI RESTU (Part 2)
Setelah perbincangan kemarin dengan ayah dan ibu aku menjadi pilu. Sangat lara rasanya mendengar keputusan dan kata-kata yang sudah terucap semua. Ingin tidak menerima tetapi bagaimana juga itu pasti sebuah keputusan yang membawa ke jalan kebaikan ayah dan ibu demi seorang anak putrinya di masa depan. Setelah perbincangan keluarga selesai aku langsung memberi kabar kepada dia melalui via cerita, sebab aku tidak tahan jika melalui via suara, sudah terlalu sesak sampai terisak atas yang telah terjadi hari kemarin dan hari ini. Sungguh semesta selalu berputar dan waktu terus melaju. Semua berubah dan tidak lagi sama. Sepertinya untuk sekarang Tuhan sedang mengujiku, apakah aku bisa menghadapi kecewa dan sepi seperti menghadapi bahagia tanpa henti?
Setelah aku memberi kabar tentang hal keputusan ayah dan ibu dia tersentak sesak juga namun sesak dia berbeda dengan sesak yang aku rasakan. Dia masih bisa bertahan untuk tetap menjalankan perlahan sedangkan aku hanya mengeluarkan tangisan. Tetapi, pada hari itu juga kami memutuskan untuk tetap berjuang berdua demi restu orang tua. Bukannya melanggar wejangan ayah dan ibu tetapi kami ingin memperbaikinya satu persatu. Dia melangkah lebih maju aku mengikutinya dari belakang, sebab dia yang selalu meyakinkan bahwa kita akan bisa sampai satu tujuan. Jika ditanya mengapa aku ingin ikut bersamanya dan masih menuruti untuk berjuang berdua, sebab dia yang selalu memberi iba dengan segala caranya melalui perbuatan-perbuatannya dan kata yang selalu menjadi penguat utama.
Dia bertanya kepadaku, "Mengapa ayah dan ibu begitu? Lalu kujawab, "Ternyata kamu belum bisa menjadi nomor satu dalam restu". "Apa yang menjadi kekuranganku?" Dia bertanya lagi kepadaku sambil menatap tanpa ragu. Aku menjawab dengan suara yang pilu "Karena kamu bertolak belakang dengan keinginan ibu yang ingin memiliki menantu satu tetapi sama dalam tuju". Dia hanya terdiam sambil menggenggam tanganku. Aku tidak mengetahui dia emosi mendengarkan itu semua atau dia berpikir untuk memperbaiki diri agar menjadi yang lebih berarti. Setelah pembahasan itu selesai kami memutuskan perbincangan dengan segala konflik yang bertolak belakang dengan keadaan. Dalam perbincangan yang syahdu kami bercumbu dengan keluh beradu di sela-sela ada yang rapuh. Dia hanya termangu sambil menatapku penuh dengan tanda seru, bahwa dia bilang "Masih banyak jalan untuk menempuh, satu persatu akan berlalu kita menuai bersama dalam satu rasa".
Setelah pertemuan itu kami memutuskan untuk tidak bertemu selama beberapa hari ke depan, dia juga tidak akan ke rumahku walaupun hanya singgah sebentar. Sebab, ibu melarang untuk itu karena tidak enak dilihat tetangga katanya. Kami tetap beradu walaupun aku dirundung ragu sedangkan dia dirundung rasa yang selalu menggebu agar kita bisa menjadi satu dalam restu. Jika ditanya mengapa aku ragu, jawabku sederhana, karena aku tidak ingin membohongi ibu dan tidak ingin beradu jika ayah dan ibu mengetahui itu. Aku dan dia tetap menjadi kita tetapi berbeda keadaan, dulu masih diperlihatkan sekarang hanya bisa diam-diam. Selama 2 tahun hubungan kita masih bermesraan, makan sambil menikmati kerlipnya gemintang, bercumbu di heningnya malam, dan beradu di saat saling mengadu jika kita ingin saling satu. Sekarang 1 tahun terakhir kita diam-diam saja, kau yang entah dimana dan aku masih tetap disini tanpa menyinggung tanya-tanya ibu masalah menantu idaman bagaimana jadinya.
Pukul 6 petang kau menjemputku di halte pinggir jalan. Helm berwarna coklat menjadi pelengkap kita di tengah kemacetan. Berhenti di sebuah tempat makan, sekarang kau tidak seperti biasanya. Dulu kau tidak pernah berhenti menggodaku sekarang menyapa barang sedikit saja rasanya enggan. Sekarang bukan lagi tanganku yang di genggam melainkan handphone yang menjadi sorotan, bukan lagi mataku yang di pandang, tetapi nyinyiran orang di sosial media yang bertuan. Aku lelah jika kita tidak berubah, kau bilang aku yang tidak usaha untuk meyakinkan ibu juga ayah tetapi kau sendiri hanya bermain dengan wanita di kota lainnya. Dugaanku selalu benar, ternyata kau sama saja. Kemana segala juang yang kau pertahankan? Dimana kata-kata indah kita saat berbincang? Bagaimana dengan satu tuju untuk menempuh waktu demi restu? Banyak pertanyaanku dan hanya satu jawaban yang aku inginkan, yaitu kepastian yang sejalan. Kau hanya membuatku sesak, menyalahkan manusia yang akhirnya juga di lupakan. Kau sudah berlari pergi, sedangkan aku masih saja jalan sendiri.
Ternyata, sampai sini juga masih ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan lagi. Jadi bagaimana, pertahankan untuk dijalankan atau tinggalkan agar tidak ada sebuah harapan? Bukannya tidak ingin berjuang, tetapi untuk apa berjuang jika nantinya tidak dapat dikenang? Bodoh. Sudah melakukan hal sia-sia yang tidak pernah disadari keberadaannya. Untuk apa kau memberi harap, jika kau tidak dapat bertanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuat? Kemana percaya yang kau jadikan penguat kita? Apa sudah kau beri juga kepada wanita di kota? Jika iya, kau memang tidak ada bedanya. Lagi-lagi luka yang ditinggalkan oleh satu pihak dalam hubungan. Untuk apa membuat rencana, jika kau tidak dapat menjalankannya dengan saksama lalu kau rubah dengan seenaknya? Jangan kau biarkan jemari ini, ingin rasanya selalu digenggam dan rasa ingin selalu berdua bersama, sampai akhirnya ada rasa yang bungkam tidak pernah padam.
Ini bukan tentang kau yang tidak ingin berjuang, bukan juga tentang aku yang hanya ingin menang dalam tenang. Tetapi, ini tentang rencana Tuhan yang sudah dituliskan. Pelikku akan menjadi pelikmu. Untuk hati dan jiwa yang terluka, tenang saja. Kau akan bahagia pada waktunya. Tugas kita sekarang itu hanya memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya. Jika belum baik, maka mencoba menjadi yang baik. Jika sudah baik, maka menjadi yang lebih baik. Semua ada jalannya dan ada prosesnya. Kita sebagai yang dicipta hanya dapat menerima apa yang akan terjadi. Pasti akan diganti dengan yang lebih berarti untuk menjadi yang terbaik di dalam diri. Terkadang, sebuah pertemuan kembali menyadarkan, bahwa tidak boleh bergantung pada manusia lainnya. Sebab, yang selalu ada juga akan tiada pada waktunya. Kita tidak pernah mengetahui tentang apa yang terjadi dan siapa yang akan datang untuk menemani. Ada yang datang untuk meninggalkan, ada juga yang datang untuk menemani dengan abadi. Disini, yang dapat mempertahankan suatu hubungan hanya dua insan yang saling menguatkan, walaupun berbeda tetapi saling mengisi. Berpegangan berdua untuk berjuang bersama, agar tidak ada kecewa yang menghampiri. Hidup tidak melulu tentang kesedihan. Kita harus bangkit untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan yang menantikan.

Komentar
Posting Komentar