JODOH YA?


Dalam sebuah acara talk show kutemui dirimu sebagai pengisi acara dan aku seorang peserta. Pemaparanmu membuat banyak orang tidak memalingkan perhatiannya, mata tersorot ke arahmu semua dan telinga bekerja dengan baik. Setelah acara selesai kutemui dirimu untuk meminta nomor WhatsApp, barang kali kita adalah jodoh yang sudah dituliskan dalam semesta. Setelah pertemuan itu kita bertegur sapa melalui social media yang menjadi perantara. Aku mengajakmu bertemu untuk berbicara di sebuah tempat kopi bilangan Jakarta. Aku bertanya kepadamu apakah bersedia jika kita berbicara berdua? Kau jawab dengan begitu cepat dan menerima tawaranku. Aku seorang tuan yang sudah dibuat patah berkali-kali. Gagal menikah karena puan tidak ingin menerima apa adanya, memiliki cinta yang tidak pernah padam tetapi menyakitkan. Kita bertukar cerita, kau sudah mengetahui tentangku dan aku sudah mengetahui tentangmu. Walaupun kau dibilang lebih tua dariku tetapi aku tidak apa jika memang nanti kita berjodoh dalam semesta, batinku dalam hati. Jika ditanya, mengapa aku ingin memilikimu? Jawabku sederhana, karena aku ingin membuat tanda seru berdua untuk juang dalam riang. Kita sama-sama memiliki ambisi yang tinggi, cita-cita seperti mercusuar, dan kita bisa saling mengisi untuk berbagi dan memberi solusi.

Aku seorang puan yang telah dipatahkan hatinya tetapi manusianya entah pergi kemana. Ada sesak yang membuat terisak lalu tiba-tiba si tuan itu datang. Dengan mengejutkan setelah pertemuan itu aku berdoa dalam hati bahwa aku ingin memiliki jodoh seperti laki-laki ini. Doaku sederhana "Tuhan, berikan aku laki-laki seperti dia yang dapat menjagaku dalam duka". Setelah pertemuan di Jakarta itu kita hanya mengadu melalui sosial media. Sesekali bertemu untuk menghilangkan rindu. Aku tidak mengetahui dia memiliki rasa yang seperti apa kepadaku, sebab dalam pertemuan itu kita berbicara bahwa mempunyai misi yang sama. Ingin memperbaiki diri agar mendapatkan pasangan yang tidak lari lagi sebelum kompromi, memiliki satu komitmen sampai kehidupan yang sejalan. Aku rasa dia dan diriku tidak ingin dulu bercumbu dalam satu tuju bersama siapa pun itu. Sebab, dibuat patah berulang kali tidak cukup rasanya jika langsung mencari yang baru tanpa rasa mengadu yang cukup kepada Sang Maha Penghidup. Dia laki-laki yang mengejutkan menurutku. Walaupun baru kenal dalam acara Talk show itu, tetapi kupikir sepertinya dia tertarik kepadaku untuk dijadikan teman bercerita. Sebab, keberanian dia untuk mengajak berbicara berdua tanpa basa-basi dengan segala macam alibi.

Setelah beberapa bulan kita berkenalan lalu pertemuan yang membuat kita menjadi tidak karuan. Aku memberanikan diri untuk mengajak dia, bagaimana jika kita mencoba untuk menjadi teman bercerita yang lebih? Kupikir dia akan menolak mentah-mentah, ternyata dia menganggukkan kepalanya dengan senyum merah merona. Aku tidak menanyakan alasan dia kenapa menerimaku dan dia juga tidak menanyaku kenapa memilih dia sebagai wanita, karena kupikir ini memang sudah jalannya dan kita sudah tahu itu. Kita saling memberi solusi dalam berbagai hal, aku sebagai seorang Public Speaker, kau sebagai Founder sebuah komunitas yang selalu membuat manusia-manusia dapat merasa melalui kata dan bicara. Lelah yang membuat kita ingin berserah. Kita tinggal di ruangan gelap gulita, bernama kasih sayang. Berdiskusi dalam ruang kedap suara, yang bernama bercumbu dalam satu cinta yang sama. Dalam malam yang syahdu bercumbu dengan keluh sambil beradu di sela-sela ada yang rapuh. Kau hanya termangu sambil menatapku penuh dengan tanda seru, bahwa kau bilang; Masih banyak jalan untuk menempuh, satu persatu akan berlalu kita menuai bersama dalam satu rasa.

Sudah beberapa tahun kita menghabiskan waktu bersama. Kupikir sudah waktunya kita tidak lagi sekedar menjadi teman bercerita, tetapi sekarang sudah waktunya untuk kita menjadi teman dalam satu keluarga. Apakah kau ingin membangun rumah yang kokoh sampai batu nisan nanti disampingku? Kutanya dia dengan segala rasa yang menggebu-gebu sambil menyodorkan kotak kecil berwarna merah. Dia menangis terharu sambil menganggukkan kepalanya sama seperti waktu dia menerimaku sebagai teman bercerita yang lebih tetapi bedanya dulu dia senyum merah merona dan sekarang menangis karena terharu. Kupasangkan berlian itu ke jari manis dia yang mungil sebagi simbolis bahwa dia wanita milikku dan jangan ada yang ganggu. Setelah pertemuan membahagiakan itu kami membicarakan soal tanggal kapan orang tua kita bisa untuk melihat ini semua agar menjadi saksi nantinya. Kami tetapkan tanggal cantik bertepatan dengan tanggal ulang tahunmu. Lalu aku datang bersama keluarga besarku membawa banyak hadiah sebagai tanda bukti cinta jika kita akan bersama.

Nanti akan kutulis sebagai tokoh dalam bait kataku bahwa kau adalah perempuan dalam semesta yang sudah ditetapkan untuk menemaniku dalam suka maupun duka. Hari Sabtu kata "SAH" itu sudah menjadi milik kita berdua, ada kenang dalam tenang yang selalu terngiang-ngiang. Ada aku dan kau yang berdampingan di atas pelaminan di hari yang sangat membahagiakan. Kita akan membangun rumah yang kokoh tanpa ada yang patah atau jatuh. Kita saling mengisi untuk berbagi dalam sepi maupun bahagia yang menemani. Aku selalu berdoa "Tuhan, jagalah aku denganmu dan jauhkanlah aku dengan wanita lain karena aku hanya ingin kamu". Doaku sederhana tetapi bermakna. Malioboro tidak pernah sepi dengan manusia, dalam segelas kopi ada riang riuh suara bising kota jogja, dalam segelas teh ada perbincangan hangat yang membuat tersayat. Semua tidak berarti jika kita tidak dapat memahami diri sendiri. Kau pergi mencari keramaian? Enyah saja semua, sebab yang kau cari hanya satu tuan; merindukan seseorang yang sejalan tetapi tidak banyak menuntut segala keadaan. Menerima lalu memberi penuh kasih juga sayang adalah hal paling di inginkan oleh banyak manusia, jangan menahan ego sendiri jika kalah dengan keadaan ya sayang, aku akan menemanimu dalam membuat tanda seru. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERDUA ITU KITA

RESTU UNTUK SATU TUJU