KEABADIAN TERANG BUMI


Kalau nanti semesta dan waktu sudah tidak lagi menyatukan kita, sudah seharusnya aku menelan rasa pahit seperti sebelumnya dan kau harus tetap bahagia. Apa pun yang terjadi kau harus bahagia. Kita harus bisa kembali bagaimana caranya berdiri sendiri tanpa ada yang menghampiri, bisa menerima diri sendiri sebagai rumah walau tidak ada lagi yang singgah seperti sebelumnya. Kau harus kuat di saat aku sedang jalan melewati sekarat di ambang pilu. Jangan terlalu bersedih. Karena kau tahu bahwa ada satu yang tidak pernah benar-benar pergi walau sudah sepenuh hati tidak menginginkan ada lagi. 

Itu adalah sepucuk surat pendek yang ia tuliskan untukku. Entah kemana perginya tetapi surat itu sengaja ditinggal agar aku membacanya. Dia adalah lelaki paling romantis dari semua yang pernah aku kenal. Di dalam kepalanya banyak puisi dan emosinya sudah menjadi diksi. Ya, dia adalah seorang pujangga yang mempunyai banyak kata-kata indah, emosinya selalu dituangkan dalam tulisan, romantisnya selalu di ungkapkan dalam kutipan, dan perhatian dia selalu di abadikan. Dia adalah seorang penulis yang tidak memiliki penghasilan tetap. Bersyukur banyak pembeli bukunya sehingga bisa menjadi orang kaya sementara. Tetapi, jika banyak orang yang sudah bosan juga dan dia tidak terus mengeluarkan karya terbarunya sudah tentu kerjaannya hanya melamun di depan teras rumah. Pada saat itu dia pergi dan hari itu juga aku merasakan perpisahan yang sesungguhnya. Tanpa sapa kembali dia hanya meninggalkan kata bukan kecupan dalam pelukan. Aku terisak sampai sesak. Menyesal karena ini semua salahku, tetapi mau bagaimana juga aku tidak bisa memaksa restu ibu.  

******

Namanya Terang Bumi, dia adalah lelaki yang memiliki banyak juang tidak pernah berhenti mencari uang untuk membuatku senang. Tetapi, restu ibu belum sejalan dan belum bisa dia dapatkan. Ibu tidak pernah berpihak kepadanya walaupun dia sudah banyak berusaha. Ibu selalu memikirkan masa depanku bagaimana jika nanti hidupku akan ditanggung oleh Terang Bumi. Menurut ibu menjadi seorang penulis belum bisa mendapatkan penghasilan yang tetap setiap bulannya. Andaikan, Terang Bumi kerja dikantoran sudah pasti tidak ada lagi alasan ibu untuk menolaknya, karena ibu pikir bahwa pernikahan bukan hanya sekedar diberi umpan dengan cinta tetapi harta juga menjadi kebutuhan realita. Sebenarnya aku bisa saja mencari lelaki lain di luar sana yang sudah tentu masih banyak menginginkan aku, seperti Langit Bintang yang diam-diam menyukaiku di belakang Terang Bumi. Dia adalah seorang pekerja kantoran dan sudah pasti memiliki penghasilan tetap setiap bulannya. Namun, cara kerja dia membahagiakan aku berbeda dengan cara kerja Terang Bumi. Sudah pasti cara kerja dia membuatku bahagia hanya dengan uang alih-alih menyewa hotel bintang lima lalu dihias dengan lampu-lampu yang ditaburkan bunga dan membelikanku tas dior, jam mahal, dan barang branded lainnya tanpa memikirkan bagaimana cara romantis yang sesungguhnya. Karena, kebanyakan orang yang mempunyai banyak uang pasti jarang berusaha untuk melakukan bagaimana caranya berjuang sesungguhnya, terlalu banyak berpikir bahwa keromantisan hanya dapat dibeli dengan uang semua cukup tanpa adanya pembuktian. 

Aku mengakui jika harta sangat dibutuhkan dalam kehidupan realita, tetapi cara Terang Bumi membuatku bahagia sangat berbeda dengan lelaki lainnya. Bahkan, cara dia marah saja masih bisa aku abadikan dalam kenangan. Dia mengenal uang tetapi juga keras dalam berjuang. Namun, ibu belum juga bisa mengizinkan aku dan dia untuk bisa dalam satu kehidupan. Tidak berhenti sampai situ, dia selalu mengajakku kompromi bagaimana caranya kita bisa satu dalam persepsi dan resepsi. Dia tidak pernah berhenti berpikir sebelum menemui jalan buntu, jika sudah menemui jalan buntu pun dia akan memutar balik arah untuk menemukan arah yang berbeda agar bisa mendapatkan jawabannya. 

******

Dia ke rumahku untuk bersilaturrahmi seperti biasa, lalu membawa aku keluar untuk menghirup udara segar kebun teh ibu di belakang rumah. Ibu memandang kita dengan wajah geram karena tidak suka dengan Terang Bumi. Namun, Terang Bumi mengabaikannya dan tetap membawaku keluar. Sampai di kebun teh dia mengajakku berbicara, katanya "Jadi bagaimana dengan hubungan kita selanjutnya?" Lalu aku bilang "Bagaimana dengan Ibu?" Dia menjawab sambil menatapku "Tenang saja, sekarang aku sudah memiliki banyak uang seperti lelaki diluar sana sama dengan apa yang ibumu inginkan, bahkan aku berjanji tidak akan membuatmu kelaparan di dalam kehidupan" lalu aku menjawab sambil menahan nangis, tetapi aku sudah tahu jika aku mengelak lagi pasti dia akan memberi semua uangnya kepadaku sebagai bentuk bukti bahwa dia benar-benar ingin sehidup semati. Ketika aku ingin menjawab, tiba-tiba dia berbicara kembali, katanya "Kamu tidak perlu khawatir, kamu hanya perlu bersedia menjadi wanitaku seutuhnya" aku menjawab "Akan aku pastikan lusa untuk membujuk ibu kembali" dia kembali menjawab "Baik, aku akan menemanimu" aku tersentak dan aku bersigap untuk langsung menolak. "Aku saja yang pastikan dan membujuk ibu karena hati ibu sulit untuk diluluhkan dengan orang lain" aku memberi alasan lain, karena aku tahu ibu masih tidak ingin memberi restu dan aku juga membutuhkan uang yang banyak sudah pasti kau menganggapku adalah perempuan material. Dia pergi dengan meninggalkan uangnya yang cukup banyak untukku sebagai bukti bahwa dia benar-benar menginginkan resepsi. 

******

Lusa sudah tiba dan sudah waktunya untuk aku memberikan jawaban. Pukul dua siang kita bertemu di sebuah restoran. Sebelum dia memberiku sebuah pertanyaan, aku lebih dulu memberi dia sebuah pernyataan, bahwa "Maaf, aku belum bisa dan kita cukup berakhir sampai sini saja" lalu dia menjawab dengan wajah yang tidak lagi senang "Apa yang membuatmu ragu?" Aku hanya diam lalu mengembalikan semua uang yang waktu lalu dia berikan sambil berkata "Ini semua uang yang kau berikan untukku, terima kasih untuk semuanya dan maaf aku belum bisa memenuhi janji yang pernah aku katakan" ketika aku ingin pergi, ia menarik tanganku lalu berbicara "Aku tidak butuh uang, karena perasaanku tidak bisa dibeli dengan uang dan aku masih bisa berjuang jika kau menginginkan" aku sudah tidak tahan lagi menahan nangis yang membuatku sesak. Setelah dia berbicara seperti itu, aku langsung pergi meninggalkannya tanpa pamit lagi. 

******

Aku bukan seorang perempuan yang menggadaikan perasaanku dengan uang, tetapi aku akui jika memang aku sangat membutuhkan uang untuk kehidupan yang panjang. Padahal kau sudah mengajakku berjuang untuk bisa saling percaya, mengisi, memberi, dan menerangi ruangan gelap dengan kasih juga sayang. Tetapi, maaf aku belum bisa dan aku egois hanya memikirkan bagaimana caranya membahagiakan diriku sendiri. Aku menyesal karena sudah menolak dan menyia-nyiakan lelaki baik sepertimu. Lelaki yang jika marah langsung memelukku, jika emosi langsung dituangkan dalam diksi lalu memberi kecupan paling hangat yang membuat tersayat. Aku menangis di dalam kenangan pelukan paling nyaman. Tetapi sayang, hidup bukan hanya tentang keromantisan saja. Aku butuh kepastian masa depan dan itu tidak aku temukan di Terang Bumi. Aku temukan di lelaki lain. Sebagai perempuan yang ingin berkecukupan, aku butuh uang bulanan yang pasti dan terjamin setiap bulan, aku butuh tempat tinggal yang nyaman, aku butuh membeli ini itu, dan pastinya semua itu ada nilai materinya. Tentu ini adalah hal yang tidak bisa kusepelekan. Mau tidak mau, akhirnya aku akui jika tidak bisa menikah dengan Terang Bumi kalau dia hanya menjadi seorang penulis yang tidak memiliki penghasilan tetap setiap bulannya, apa lagi jika dia hanya mengandalkan uang royalti buku, sudah pasti itu menjadi hal yang ambigu. Bersyukur jika banyak pembelinya di setiap minggu, tetapi jika tidak, aku belum siap untuk hidup tidak berkecukupan, mengemis kesakitan. 

******

Hal yang membuatku sangat sakit adalah sebelum Terang Bumi melamarku, Langit Bintang sudah melamarku diam-diam dan aku menerimanya karena memikirkan kehidupan yang akan datang di masa depan. Setelah pernikahan aku dan Langit Bintang tidak lama setelah kepergian Terang Bumi benar-benar tidak ada yang istimewa selain 2 buku nikah di abadikan dalam figura. Tidak lagi aku temui seseorang yang berjuang mati-matian sebagai bentuk tanda keromantisan. Aku baru menyadari ternyata Terang Bumi benar-benar ingin hidup semati denganku, karena bagaimana bisa dia sudah pergi tetapi uangnya masih denganku sedangkan dia sudah mati dengan rasa sakit yang bertubi-tubi. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berbohong bahwa aku ingin kembali lagi. Aku sangat menyukai puisi-puisi kau, menyukai emosi yang dituliskan dalam kutipan, dan kecupan dalam pelukan. Tetapi sayang, aku tidak bisa bertahan hanya dengan keromantisan. Hal yang membuat aku paling sesak adalah ketika aku kembali ke ruangan gelap itu lagi, aku menemukan sebuah puisi dan membacanya dalam sepi. Lagi-lagi isakan kembali terisi dan aku sangat menyesal telah membuatmu pergi, karena ini benar-benar kesalahan bodohku yang hanya memikirkan kehidupan ukhrawi. Aku buka lipatan kertas itu membaca sampai pipiku basah. Tidak ada lagi lelaki yang menenangkanku dengan puisi indahnya, puisi yang satu itu adalah puisi terakhir darinya untukku. 

Demi restu, aku sangat mencintaimu 

Aku menjagamu dalam dekap 

Tetapi, kau membuatku sesak 

Lalu, aku pun terlelap di dalam pangkuan sang kuasa 


Kau tidak lagi memikirkan bagaimana nasibku

Aku sangat ingin berada di pelukanmu 

Namun, engkau begitu liar 

Tidak pernah merasa cukup 


Goresan demi goresan 

Aku rasakan kesakitan di dalam kesendirian

Kesedihan di dalam rangkulan 

Perih karena tidak ada yang menghampiri 


Kau juga masih tak ingin

Dan pergi melepaskan begitu saja 

Kau biarkan tubuhku meringis kesakitan 

Lalu, kita hanya sebagai kenangan 

Puisi itu adalah sebuah pengabadian paling menyakitkan yang pernah aku temukan. Terima kasih dan maaf untuk segala keegoisanku. Tenang dan abadi di dalam sana, aku sayang selalu walau sudah berlalu.

Komentar