Jl. SAYA ADALAH AKU

 



Semua rasa tumpah menjadi satu. Pada nyatanya hati memang selalu berkolaborasi, entah luka yang terobati oleh bahagia atau bahkan bahagia yang terluka sampai akhirnya berduka. Rasanya memang yang datang selalu kecewa saja, sebab manusianya yang salah menggunakan itu semua. Adanya kekurangan sebuah ucapan terima kasih kepada Tuhan hingga akhirnya selalu merasa terasingkan dan tidak pernah puas tentang apa yang sudah di dapat. Pada saat itu ada rasa dimana kecewa sudah menjadi jalan satu-satunya. Tidak kutemui lagi sebuah jalan pintas untuk keluar memutar balik arah. Tetapi, ternyata Tuhan memang tidak pernah salah membuat keputusan. Telah kutemui sebuah jalan pintas yang dimana ada sebuah kenang dalam tenang. Setiap hari yang dijalani bersama waktu yang terus berputar memang banyak rasa. Ada luka yang bertubi-tubi, ada iri yang sulit terkendali, dan ada juga bahagia yang tidak pernah padam entah dari mana sumbernya.


Setelah aku dijatuhkan luluh lantak sampai sulit untuk bergerak, tetapi masih tetap ada satu manusia yang selalu ingin di ajak berkencan entah bagaimana dengan posisi keadaanku. Aku yang selalu berusaha untuk mengajak kompromi dengan diri sendiri, bagaimana caranya berdiri sendiri tanpa bantuan sana-sini. Saat itu manusia yang membuatku jatuh entah kemana perginya tetapi tiba-tiba sudah bersama wanita yang menyebar di social media. Lagi-lagi hujan basah di pipi, dia sudah bahagia aku yang sengsara. Sudah lelah melangkah tetapi masih tetap berusaha menjadi juara, dan pada akhirnya ada sebuah jalan bernama "Jl. Saya adalah Aku". Mulai dari situ bukan hanya sekedar tentang pandemi yang banyak orang mencaci maki, bukan hanya tentang kecewa karena sudah lama tidak bersua dengan pujangga. Nyatanya, pada titik itu ada banyak perjumpaan yang bukan hanya sekali kutemui, melainkan ada tawa karena usaha dan doa sudah menjadi nyata dalam bait cerita. Walaupun sulit untuk dirayakan oleh banyak manusia, bahkan untuk saling memaafkan saja tidak dapat bertatap muka dalam satu arah.


Tetapi mulai dari titik itu aku berhasil berdiri sendiri, aku bisa mengajak kompromi diri sendiri yang keseringan inginnya berlari. Terima kasih kepada diri sendiri karena sudah bertahan sampai sejauh ini. Kau sudah melangkah walaupun lelah, belajar menjadi dewasa yang bukan tentang sedang menginjak usia ke berapa, melainkan tentang siapa yang dapat bertahan dalam permasalahan atau pun pertarungan dan bisa bertanggung hawab atas segala hal yang telah terjadi. Tetap diam atau terus melangkah ke depan tanpa melihat apa yang telah terjadi kemarin? Semua diri sendiri yang menentukan. Konflik yang bertolak belakang antara keinginan dan mengalah untuk seseorang yang sudah tidak lagi sejalan. Dewasa sudah tidak lagi menginginkan permainan yang tanpa adanya alasan. Semua akan ada waktunya untuk menuju dewasa. Terima kasih untuk manusia yang sudah membuatku jatuh pada hari itu, karena dari situ aku dapat belajar bahwa dari segala hal bisa di abadikan dan di wujudkan untuk sebuah kenyataan yang menguntungkan.

 

Untuk semua manusia yang kecewa di dalam perjalanan hari ini atau pun kemarin karena tidak dapat bersua dengan pujangga atau pun keluarga yang jauh disana, atau bahkan gagal dalam pencapaian yang tidak sekali. Tidak apa, karena kau tidak sendiri. Banyak manusia yang merasakan apa yang kau rasakan. Memang, waktunya saja yang berbeda, tetapi semua pasti akan sampai pada waktunya. Gagal dan jatuh memang sudah pasti dan menjadi jalannya sebelum kau berhasil sampai titik tidak lagi derita. Tetapi hal itu bukan menjadi sebuah alasan untuk kau berhenti ditengah jalan. Pada bahagia atau sedih kita masih sama hanya keadaannya saja yang berbeda. Kehidupan akan membawa kita pada sebuah perubahan, entah dalam kebaikan atau sebaliknya. Jika memang dalam kebaikan kita harus mempertahankan tetapi jika sebaliknya maka kita yang harus membuat perubahan kembali. jika tidak lebih baik, maka lebih baik tidak. Ada banyak tujuan tetapi selalu ada persimpangan dalam menempuh. Jalan memang tidak selalu lurus, belok kanan juga belok kiri menentukan dari segala kebimbangan. Kalau satu arah belum sampai maka melaju lebih kencang agar sampai tujuan. Kalau lelah istirahat sejenak, sebab isi kepala adalah jalan raya yang di penuhi dengan kemacetan, klakson kendaraan, dan ricuhnya manusia dalam perjalanan. Lalu diri sendiri adalah gedung-gedung dalam ibu kota yang berdiri tinggi dipenuhi dengan segala macam alibi.


Komentar