MEMIKUL SAUDADE
Bunyi jarum jam
berdetak yang menandakan waktu tidak pernah berhenti untuk berputar, sampai
akhirnya memperkenalkan sesama manusia. Sehingga, berlanjut dalam kebersamaan.
Bersama membuat kenangan tanpa adanya batasan, sampai ada yang patah harap dan
bahagia yang tidak pernah padam. Terima kasihlah kepada sang pencipta, karena
telah memberi kejutan diluar ekspektasi yang tidak pernah terlintas dalam diri.
Bertemu ditengah bukanlah keahlian kita. Semuanya mempunyai alasan dalam setiap
mengambil keputusan. Sang pencipta yang sudah merencanakan, lalu semesta yang
mempertemukan dan kita sebagai ciptaannya yang menjalankan dengan penuh
keikhlasan dan kesabaran. Semesta akan terus berputar, semua berubah dan tidak
lagi sama. Kupikir setelah ada jeda akan berhenti begitu saja, nyatanya memang
iya. Tetapi, jeda itu tidak selamanya semua tentang berjauhan. Ada saatnya memberi
sedikit jeda untuk saling berpikir, bagaimana caranya mempertahankan,
menguatkan, dan dapat kembali bergandengan dengan menggenggam senyuman paling
ramah dalam satu restu bersama. Namun, itu semua harus dilakukan oleh dua
manusia, bukan hanya satu manusia saja yang mengharap dan satunya lagi menghilang
tanpa arah. Kau harus mengetahui, bahwa, bukan hanya sekedar menyapa lalu dapat
bersama, tetapi juga dapat menjadi yang dipercaya dan tidak membuat kecewa.
Sebab, itu hanya membuat hati menjadi nelangsa. Kita ini hidup dengan ego dan
paradigma masing-masing. Berbuat sesuka hati sesuai dengan apa yang
diinginnkannya, tanpa memikirkan terlebih dahulu apa sebabnya. Kita hanya ingin
bereuforia semata. Tetapi, pada nyatanya kita tidak pernah benar-benar,
masing-masing dalam hidup. Kita ini begitu saling walau tidak ada yang ingin
berpaling.
Apa kalian pernah
berpikir, bahwa, ingin rasanya seperti anak balita saja, yang belum mengerti
apa-apa. Bahkan, adanya perubahan semesta saja mereka merasa biasa saja, dan
tidak paham dengan adanya sebuah rasa istimewa. Mereka hanya paham dengan rasa
bahagia jika apa yang diinginkannya sudah terpenuhi semua. Ternyata menjadi
seorang remaja yang ingin menuju dewasa itu rumit ya, terlalu banyak hal yang
tidak diinginkan tetapi menjadi kenyataan. Apa di masa ini kita semua merasakan
dan mulai paham dengan yang namanya sebuah kenyamanan dengan seseorang? Aku
tidak paham dan tidak dapat menjelaskan. Sebab, aku hanya dapat diam dengan
segala rasa yang bungkam. Disini, entah siapa yang paling hebat berdusta, entah
siapa yang paling hebat terluka. Jika pada akhirnya kita bisa saling mengisi,
semoga kita tidak mengisinya dengan dusta yang seolah-olah membaikkan. Karena,
pada akhirnya kita hanya akan penuh oleh luka, alih-alih berusaha bersuka cita.
Setelah bersua tidak lagi bersuara. Diam membisu tanpa banyak beradu. Hening
yang menciptakan sepi, membuat banyaknya pertanyaan; Apakah dia baik-baik saja,
tuhan? Dia pernah bilang kepadaku, katanya “Jangan lupa untuk selalu memberi
kabar, agar nantinya tidak berakhir dengan hambar”. Tetapi, sekarang sapa sudah
tidak lagi ada, cerita sudah tidak lagi sama, dan rasa sudah menjadi hampa.
Boleh aku membenci? Aku benci dengan hal-hal yang tidak jelas, dengan hal yang
membuatku menangis, tetapi sebenarnya tidak patut untuk ditangisi. Sebut saja
aku ini anak kecil yang cengeng. Jika tidak dituruti apa maunya pergi begitu
saja, lalu berada di bawah kolong meja sambil menutup mata hingga nangis
terisak dengan merasakan rasa yang sesak. Hujan membuat semesta basah, bau abu
di aspal semakin menyengat. Tentang hal yang dulu kembali diingat, dan semakin
kuat sesak yang membuat terisak. Tempat sebaik-baiknya berteduh ialah rumah.
Terdapat kehangatan yang selalu dinantikan, pelukan ibu selalu menjadi tujuan,
dan beliau manusia yang selalu siap menerima segala beban, untuk menerima
segala rasa yang kupunya. Bahkan, jika sedang resah dia dapat membuatku
berbahagia. Dan semangat menjadi kuat, sebab banyaknya pengingat. Kemana pun
kau melangkah, rumah selalu menetap untuk kau kembali berpijak, dan cerita
kembali terucap. Kata guruku " tidak selamanya hidup merasakan kebahagiaan
dan kenyamanan. Sebab, dunia ini bukan surga. Dan sebaliknya tidak selamanya
pula hidup merasakan kesedihan dan ketidaknyamanan. Sebab, dunia ini bukan
neraka". Maka, untuk sekarang bukan tentang hal itu saja yang harus kau
rasa. Masih banyak jalan menuju roma, untuk merasakan hal yang luar biasa, agar
kau dapat berbahagia.
Percaya atau tidak,
tetapi doa selalu terucap walau kita sudah jarang berucap membahas tentang
sebuah harap. Untuk sekarang beri sedikit jeda, agar kita dapat saling merasa
tentang yang sesungguhnya. Biarkan saja semesta yang akan memberi kesadaran
pada apa yang seharusnya kita lakukan. Jangan kau jadikan rusuk menjadi rusak,
jangan kau jadikan yang gagah menjadi patah, jangan kau jadikan yang bahagia
menjadi nelangsa, dan jangan kau jadikan yang kuat menjadi sambat. Kepada bulir
air yang sudah tergenang dalam mata, lalu
tetesan yang mengeluarkan segala rasa. Ada
kenang yang pernah tinggal sebelum menjadi tanggal, ada rindu yang digemuruhi dengan rasa yang bedebah. Apa kabar kau manusia tidak bersuara? Apa tubuhmu masih kokoh untuk berdiri? Apa kau
pernah memikirkan tentang apa yang sudah terjadi, lalu pergi menjadi jalan yang
terbaik? Tentang rindu yang tidak berujung temu. Hanya dapat sampaikan kata lewat celah-celah
ibadah. Rindu ini kusimpan dalam setiap hembusan, sesak
memang selalu menjadi teman sejalan. Hanya
doa yang dapat kusampaikan, Agar kita dapat dipertemukan untuk
membahas tentang kenangan yang sempat dijalankan, dan kehidupan yang selalu berjalan, apa kau sudah
mendapat kebahagiaan? Aku tidak pernah mengetahui apa kau merasa kehilangan
atau tidak. Tetapi, pastinya aku akan tetap disini menjadi tempat kau pulang. Tidak
perlu khawatir. Jika, yang dimiliki sekarang tidak abadi lalu meninggalkan
pergi. Sebab, semua yang ada di dunia ini memang tidak pernah abadi. Semua akan
hilang, karena diambil oleh sang ilahi. Kita sebagai yang dicipta hanya dapat
menerima apa yang akan terjadi. Pasti akan diganti dengan yang lebih berarti
untuk menjadi yang terbaik di dalam diri. Terkadang, sebuah pertemuan kembali
menyadarkan. Bahwa, semesta terus bergerak dan waktu merangkak maju. Semua
berubah dan tidak lagi sama. Sebuah pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan
lalu diiringi dengan kerinduan yang mendalam. Jangan bergantung pada orang
lain. Sebab, yang selalu ada juga akan tiada pada waktunya. Kita tidak pernah
mengetahui tentang apa yang terjadi dan siapa yang akan datang untuk kita
nanti. Kalau hidup masih ingin main-main, lebih baik puas-puasin dulu mainnya.
Sampai akhirnya bisa mengambil pelajaran dari sebuah permainan dalam hidup.
Tetapi, hidup ini bukan permainan. Melainkan, keseriusan untuk berjuang dalam
menjalankan. Jakarta dan suara bising kotanya. Ada yang hidup mewah, ada juga
yang penuh dengan keluh kesah. Ada yang lelah, ada juga yang bahagia. Ada yang
pergi penuh dengan semangat lalu membawa bahagia dan pulang penuh dengan
keringat juga kecewa. Semua mempunyai jalannya masing-masing. Hidup tidak
selamanya di atas, pun sebaliknya, hidup tidak selamanya di bawah. Semua ada
waktunya kapan kita bahagia dan kecewa. Tetapi, berjuang selalu menjadi tujuan
utama jika ingin menjadi seorang pemenang. Tenang saja, semua sudah diatur oleh
sang maha. Kita berencana, Sang Maha juga.

Komentar
Posting Komentar