SEHARI SAMA DENGAN SATU HARI
Aku kira kau menjadi manusia yang bisa mengisi hari-hari penuh dengan rasa, ternyata kau hanya ditakdirkan untuk mengisi satu hari yang seperti mimpi. Pada hari itu, memang benar aku telah terbangun dari mimpi dan bahagia sekali dalam sehari. Banyak langkah yang kita tempuh, ada tawa yang sebenarnya hal itu tidak lucu, ada canggung yang membuat aku termenung sejenak memikirkan "Apa ada rasa yang sama dalam hati yang berbeda?", ada banyak kata yang terucap sampai sesekali membuatku berpikir "Ya Tuhan, apa bisa takdirkan dia sebagai jodohku?!". Pada saat itu permohonanku kepada Tuhan seketika menjadi banyak dan tidak hanya sekali aku ucap. Masalah dikabulkan atau tidak urusan nanti, yang penting aku sudah meminta dan sudah berusaha. Karena, kita tidak pernah mengetahui doa dari titik mana yang akan Tuhan kabulkan dan aminkan untuk hambanya.
Pada hari itu terlalu banyak kenangan yang kita rasakan sampai-sampai sudah tersimpan dalam ingatan, dan pada saat aku termenung ku putar kembali kenangan itu hanya untuk mengingat kembali, bagaimana rasanya dibuat bahagia dalam sehari. Dalam perjalanan terlalu banyak kisah kasih yang kita saksikan, ada bapak tua yang berprofesi sebagai tukang parkir sebagai bentuk bertahan hidup, ada pengamen jalanan yang asik dengan lagunya, ada yang foya-foya karena orang kaya, dan ada aku yang cukup bahagia karena kita berdua. Cerita yang kita bagi sudah terabadikan dalam ingatan. Daerah selatan bagian Jakarta sudah menjadi tempat singgah, lalu apa kita akan menjadi sungguh? Kita mempunyai banyak mimpi masing-masing yang masih bertahan pada ego diri sendiri. Mungkin hari itu kita bisa melangkah berdua, berjalan bersama. Namun, entah esok atau kapan bisa jadi kita berada di jalan yang berbeda dan tidak searah.
Aku selalu bertanya-tanya tentang "Apa kita bisa berlari berdua, lebih jauh dari kota ini dan saling kompromi?" Malam segera berakhir, pagi akan tiba, orang-orang akan sibuk kembali dengan dunianya masing-masing. Hari itu, mimpiku terwujud dari segala kata-kata yang tidak sengaja ku sebut. Esok, kita akan bersua dengan takdir baru, maka, hari ini mari kita habiskan waktu berdua untuk mengelilingi kota. Sepertinya aku terjebak dalam pusaran waktu, meminta agar hari itu tidak cepat berlalu. Aku yang ingin bertahan sendirian dan mengulang berjalan berdua untuk mendatangi sebuah jalan yang bernama "Kenangan". Menurutku, jalan itu seperti surganya dunia. Ada tawa yang membuatku tidak ingin memanglingkan wajah, ada orang yang membantuku dalam kesulitan, ada kata yang membuatku bahagia, dan ada jalanan yang ramai tetapi serasa milik kita berdua.
Jika ini hanya sementara, aku memang harus siap untuk bilang "gapapa". Karena, sebelumnya juga tidak ada yang serius, tidak pernah ada kita dalam bait cerita, tetapi nama kau sudah menjadi tokoh dalam topik pembicaraan. Jangan berubah, karena kau tetap menjadi manusia yang kukenang dalam ingatan. Namun, jangan pernah membuat harap juga jika kau tidak siap untuk membuatku menjadi yang istimewa. Hati-hati dalam berbicara, karena ada yang bahagia hanya terisi oleh kata-kata. Tetapi, ada juga yang nestapa karena kata-kata tersebut juga yang salah dalam berbicara. Jaga diri masing-masing, bila waktunya tiba nanti kita akan bertemu lagi. Kita pernah tetapi tidak sampai akhir. Aku kalah, kau menyerah, kita bertahan pada ego masing-masing, sampai akhirnya harus ada yang mengalah dan berujung menyerah. Kita memang tidak pernah sama seperti sebelumnya. Selamat menuju jalan masing-masing dan semoga kita tidak menjadi asing.
Komentar
Posting Komentar