BUKAN SEBAGAI RUMAH





Kalau dari awal terdapat pilihan;
aku memilih untuk tidak mengenalmu sejak awal.
Tidak ada patah hati, tidak ada interaksi,
tidak ada yang teradiksi, dan tidak ada kenangan yang abadi.

Diam membisu, acuh tak karuan.
Menyapa rasanya enggan.
Kau memberi banyak celah harap,
ternyata setelahnya kau membuat patah.
Luluh lantak hati ini seperti tersayat
Tetapi, manusianya entah pergi kemana.

Mungkin sudah bahagia ya?
Tidak apa lah kau membuatku asing,
jika memang kau sudah bosan.
Tetapi, lebih baik kau berbicara terlebih dahulu tuan.

Hati puan ini bukanlah seperti bianglala.
Bukan juga tempat singgah sementara.
Seharusnya saling menjaga,
agar tidak ada yang pelik dalam luka.

Kupikir kau menjadikan diriku sebagai rumah.
Ternyata hanya sebagai halte di persimpangan jalan sana.
Apa kau pernah merasa kesepian?
Ucapku sederhana, hanya meminta agar kau bahagia.

Ada manusia yang membiarkannya menari
sebagai bentuk melepaskan rasa.
Ada binatang yang jahat dibiarkannya berlari
di dalam tubuh manusia lalu dipelihara olehnya.
Tidak lama kemudian perilaku manusia dan binatang itu sama saja,
yang tersisa sekarang hanya;
Kejaran rindu,
Tikaman luka,
Darah mengalir seperti air, lalu
Manusia yang meninggalkan itu semua pergi,
ternyata dia bukan sebagai rumah tetapi bajingan dalam pelukan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERDUA ITU KITA

RESTU UNTUK SATU TUJU

JODOH YA?